Belajar: Melawan Kedangkalan, Mempertanyakan Normativitas

Prakata: Tulisan ini juga dijadikan bahan Diskusi Rabuan GKA-RB Salemba, 2 September 2015 (Tema: Amor Fati: “Apa dan Bagaimana itu Belajar?”)

Bagi kehidupan kita saat ini di Indonesia, khususnya di Jakarta, ketika mendengar kata “Belajar” yang terlintas dalam benak kita mungkin tidak lagi terkungkung pada lingkup sekolah formal, kursus keterampilan, dlsb. Kita bahkan sudah tidak asing dengan bentuk-bentuk “pembelajaran” yang lebih mutakhir (homeschooling, forum komunitas bidang ilmu tertentu, online learning non-institusional, dlsb) maupun berbagai jenis kecerdasan yang tidak lagi diukur dengan kemampuan kognisi logis-matematis semata. Singkatnya, kita tidak lagi terkejut  (bahkan lumrah) dengan variatifnya model “pembelajaran”, bahkan pemahaman kita tentang “kecerdasan” pun sudah sedemikian luas dan beragam. Akan tetapi, dibalik keberagaman bentuk dan definisi tersebut, barangkali hal yang patut kita tanyakan adalah “Untuk apakah belajar itu?”, “Apa signifikansi sehingga kita perlu menjadi ‘terpelajar’?. Dan barangkali jawaban umum yang kita sering dengar tidak jauh dari: membangun karier yang baik, mendapat penghasilan yang tinggi, mampu bersikap lebih santun/tidak kasar, hingga alasan-alasan ala buku-buku motivasional klise seperti “menjadi pribadi yang lebih baik, berkembang, dan kreatif”. Akan tetapi, benarkah signifikansi kita perlu menjadi terdidik hanya berhenti pada “perut yang terisi”, karier yang meroket, mewariskan ilmu di institusi pendidikan, atau “sekedar menjadi pribadi yang lebih baik”?

Melihat kembali sejarah.

Menilik kembali sejarah bagaimana manusia berusaha menjabarkan makna “belajar” dan “pendidikan”, saya melihat 2 hal penting. Yang pertama, bahwa segala gagasan-gagasan mengenai “belajar” maupun “pendidikan” yang kita kenal hari ini adalah produk dari definisi-definisi yang pernah ada di masa lalu atau produk sejarah yang tidak lepas dari struktur sosial dan budaya yang berkembang pada zamannya. Adalah sulit untuk menyebut bahwa suatu gagasan itu orisinil dan bukan hasil warisan atau mungkin perkawinan dari gagasan-gagasan pendahulunya. Dan kelak apa yang menjadi gagasan-gagasan hari ini akan menjadi bahan baku pula untuk gagasan-gagasan berikutnya. Begitu pula ketika kita bicara gagasan tentang pendidikan, adalah gagasan yang terus mengalami dinamika terkait sejarah, politik dan budaya yang berlangsung sepanjang zaman. Bermula dari gagasan pendidikan yang beriringan dengan kepercayaan yang dikembangkan baik oleh agama samawi di Timur Tengah, Taoisme di Tiongkok, Hinduisme dan Budhisme di India, yang mengusung pertanyaan-pertanyaan mengenai hakikat hubungan manusia dengan jagat raya, alam, dan Yang Ilahi, lalu ke peradaban Yunani Kuno yang melahirkan filsafat sebagai respon atas celah yang tak tertambal oleh kepercayaan. Dalam perjalanannya, peradaban Yunani Kuno pun juga terus mengalami dinamika sosial, seperti kaum ‘Sofis’ yang dekat dengan uang diwakili Protagoras [481 – 411 S.M.] dengan Sokrates [470-399 S.M.] yang sederhana, maupun Plato [427-347 S.M.] dengan Aristoteles [384-322 S.M.]. Dari Sokrates pulalah kita mengenal kata ‘pendidikan’ (Dari kata pedagogi/paidagogos yang berarti ‘pengasuh’), begitu pula dengan spesialisasi yang juga merupakan perkembangan dari filosofi Yunani  Kuno. Pola tersebut terus berulang sepanjang sejarah, mulai dari Dark Ages (Abad 6-7), Era Monopoli Gereja (Abad 8-15), Era pendidikan modern (Abad 16-17), Era Demokratisasi Pendidikan (Abad 18-20). Setiap era memiliki konteks sosial, budaya, bahkan politik masing-masing dan hal inilah yang memicu lahirnya era pendidikan selanjutnya.

Yang kedua, tiap-tiap gagasan/ideologi pendidikan juga lahir dari proses dialektika, dimana gagasan yang lebih dahulu muncul selalu punya gagasan tandingan/alternatif dan dalam prosesnya melewati perdebatan, koreksi, pengkajian ulang, perlawanan, maupun kolaborasi. Secara umum ideologi-ideologi pendidikan terdiri dari 6 konsep, (Ideologi-ideologi Pendidikan, Pustaka Semesta Press, 1998); yaitu : Fundamentalisme, Intelektualisme, Konservatisme, Liberalisme, Liberasionisme, dan Anarkisme. Fundamentalisme menganggap bahwa kehidupan yang baik bersumber pada tolak ukur keyakinan yang sifatnya intuitif (spontan dan tidak perlu bukti penunjang) dan/atau wahyu (biasanya melibatkan jawaban-jawaban otoritatif, bersifat Ilahi, iman) yang didukung oleh ‘akal sehat’ yang didapat melalui ‘pengalaman hidup’. Intelektualisme di sisi lain memasukkan unsur penalaran, artinya tidak lagi suatu keyakinan/’pengalaman hidup’ kebanyakan orang bisa diterima bulat-bulat, melainkan manusia sebagai mahluk yang berakal-budi punya kemampuan dasar untuk menalar dan itu bisa dipertajam melalui belajar. Dari sudut pandang Konservativisme, lahir pemikiran bahwa tiap manusia yang berakal-budi dan bernalar ini pada akhirnya bisa pula memiliki sudut pandang yang berlainan, sehingga dirasa perlu untuk dibangun suatu institusi/lembaga yang merumuskan ‘hal-hal dasar’/proses budaya yang telah teruji oleh waktu yang panjang. Sekilas ini mirip dengan Fundamentalisme, tetapi perbedaanya adalah Konservativisme masih membuka pintu untuk perkembangan pemikiran selama itu “membangun” dan “menghormati tatanan sosial yang berlaku”. Liberalisme hadir dengan pemikiran yang mengedepankan pemecahan masalah secara ilmiah dan penyelidikan yang bisa menghasilkan bukti objektif, dan terkait dengan pemecahan masalah individu sehari-hari secara praktis. Segala sesuatu hanya bisa diterima hanya setelah terbukti layak dipercayai. Kemudian ada pula pemikiran Liberasionisme (Liberasi: pembebasan) yang penekanannya lebih kepada bagaimana lembaga pendidikan harus menutun pada pemecahan masalah-masalah sosial, berbeda dengan liberalism yang lebih menekankan pemecahan masalah individu. Dalam pandangan ini pendidikan bertujuan untuk turut membangun sistem sosial, politik, ekonomi yang demokratis. Ada pula Anarkisme sebagai ideologi pendidikan yang justru melihat pendidikan yang di-lembaga-kan adalah konsep yang harus dimusnahkan demi manusia bisa mencapai potensi setinggi-tingginya. Ideologi ini sama-sama menjunjung individualisme psikologis seperti halnya liberalisme, tetapi perbedaannya adalah anarkisme menolak ide bahwa kehidupan sosial sebagai sesuatu yang harus dilembagakan, karena pada akhirnya pelembagaan itu sendiri akan mereduksi nilai sujektivitas lewat mekanisme sosial.

Setiap ideologi pendidikan yang disebutkan di atas memiliki tokoh dan ciri khas nya masing-masing. Akan tetapi saya lebih tertarik dengan pendekatan Erich Fromm dan Paulo Freire, yang menurut saya lebih mendarat, dalam pengertian menjadi antitesis, dengan konteks pendidikan dan struktur sosial di Indonesia. Erich Fromm mempertanyakan konsep pendidikan modern yang dikatakannya membuat manusia menjadi automaton, mahluk template yang kehilangan jatidiri dan terbentuk sesuai apa mau struktur sosial dan budaya sekitar. Automaton dihasilkan melalui pembinasaan kespontanan, penekanan berekspresi dan emosi atas nama adat dan kepatutan, dibarengi dengan penyuntikan standar moral sesuai keinginan banyak orang. Kalau pendidikan formal tak mampu melakukannya, maka sanksi sosial lah yang akan bertindak. Kita dijejali begitu banyak informasi dan “fakta” tanpa ada ruang untuk berpikir mengenai “fakta” tersebut, atau ketika pertanyaan-pertanyaan mendasar yang sering timbul dalam benak manusia tentang kehidupan, yang sebenarnya natural dan polos, dianggap sebagai sesuatu yang “berat” dan hanya bisa jadi pokok bahasan para filsuf di menara gading. Belajar tidak sama dengan adaptasi, yang hanya sekedar mencocokan diri dengan harapan orang lain/lingkungan dan pada akhirnya melenyapkan jatidiri. Pembelajaran selayaknya memberikan ruang terhadap keunikan dan kejujuran emosional manusia.

Dalam kerangka pikir yang kurang lebih serupa, Paulo Freire, menawarkan ide bahwa pendidikan yang baik adalah pendidikan yang membebaskan, pendidikan yang menolong seseorang menjadi otentik dan merdeka. Freire tidak sepakat dengan pandangan bahwa belajar adalah kegiatan sekedar mengisi diri dengan berbagai pengetahuan dari sumber yang dianggap lebih berpengalaman dan percaya penuh terhadapnya tanpa perlu mengkaji ulang pengetahuan tersebut. Hal ini disebut Freire sebagai pendidikan “gaya bank” yang sebenarnya hanya menghafal dan menjalankan prosedur/dalil tanpa memberi pengetian sama sekali, dan sistem ini pada dasarnya melanggengkan relasi “penindasan” antara pihak yang dianggap lebih berpengalaman/superior/tahu/terdidik kepada pihak yang dianggap inferior. Sistem pembelajaran ini, menurut Freire, juga menyembunyikan manusia dari fakta bahwa manusia perlu menghadapi realitas, berkreasi di tengah realitas, dan membebaskan diri dari penindasan budaya, sosial, dan politik. Dalam pendidikan yang membebaskan, alih-alih menggunakan konsep pembelajaran hierarkis, Freire menawarkan sebuah model pembelajaran dialogis, dimana “guru” tidak sekedar menjejali “murid” dengan dalil-dalil yang dianggap saklek, tetapi “guru” dan “murid” duduk sejajar dengan mengangkat realitas sebagai topik pembelajaran, sehingga terjadi diskusi yang cair dan tidak lagi sekedar merasa diri paling benar.

Normativitas dan Kedangkalan

Melihat dua hal penting dalam sejarah bagaimana manusia belajar di atas, saya pribadi melihat bahwa hakikat belajar dekat sekali dengan semangat dekonstruksi, semangat mempertanyakan ulang segala sesuatu (bahkan yang dianggap ‘harga mati’ sekalipun), semangat untuk melawan. Pertanyaannya, perlawanan terhadap apa? Seperti halnya konteks dimana Fromm dan Freire bersuara lantang, bukankah konteks yang sama adalah hal yang kita lihat dan alami sehari-hari? Normativitas: kesantunan semu, acuh tak acuh atas nama norma, bermanis-manis ria (kepada otoritas yang lebih tinggi), sistem sosial yang intimidatif dan tidak ramah terhadap sesama, serta Kedangkalan: menelan informasi bulat-bulat, kegemaran akan indoktrinasi tanpa berpikir lebih dalam dan komprehensif, maunya terima jadi. Bukankah kedua penyakit ini yang secara terstruktur, sistematis, dan masif menggerogoti akal sehat bahkan spiritualitas kita hari-hari ini, dan menjadi ciri umum dari suatu golongan masyarakat yang biasa kita sebut “kelas menengah ngehe”? Sejarah pembelajaran memberi kita perspektif alternatif bahwa manusia sudah selaiknya diberikan ruang untuk kejujuran, otentisitas, dan kemerdekaan untuk menentukan identitas mereka sendiri. Di tengah kondisi sosial-masyarakat yang penuh kedangkalan dan normativitas seperti inilah seharusnya pemahaman kita tentang belajar menolong kita untuk melihat kehidupan, diri, sesama manusia, bahkan dunia, dengan perspektif yang lebih luas dan dalam, lebih dari sekedar bagaimana untuk meraih American Dream versi kita sendiri atau sekedar menjadi pribadi yang “super” ala jargon Mario Teguh. (ADS)

Antara Kantor dan Manchester City

Catatan: Posting ini semata-mata hanya random thinking. Tidak ada maksud serius apapun dibalik posting ini, so seperti slogan 9gag, Just for fun hehehe….

Tepat hari ini, 23 Juli 2012, telah resmi 3 minggu saya menjadi karyawan di suatu perusahaan IT consultant. Salah satu pengalaman paling unik yang dialami selama masa training adalah posting dari salah seorang rekan saya yang mengekspresikan random thinking-nya dengan meng-asosiasikan teman2 dan rekan2 kerjanya dengan lagu tertentu.
Mencoba turut iseng, maka terlintaslah random thinking di pikiran saya, sebagai penggila bola, untuk meng-ibaratkan rekan2 se-kantor yang saya temui dalam training. Peng-ibarat-an ini TIDAK berdasarkan fisik/wajah, apalagi skill individu. Sekali lagi ini murni random thinking, gak ada dasarnya, sama seperti naskah Opera Van Java. Jangan tanyakan pula mengapa saya memilih Manchester City sebagai objek pembanding, karena saya bukan fans Manchester City dan saya belum menemukan analogi tim yang lebih cocok. So, let’s have fun reading🙂.

Joe Hart => Barry Lee
Micah Richards => Welly Setiawan
Vincent Kompany => Hendruw H.
Joleon Lescott => Andy Setiawan
Aleksandar Kolarov => Agustine
Yaya Toure => Edward Suryajaya
Gareth Barry => Yosua Denny Pranata
Mario Balotelli => Kurniawan H.
Samir Nasri => Alan Darmasaputra
Carlos Tevez => Nidia Badzlin
David Silva => Shinta Oktavia
James Milner => Darren Ferian
Sergio Aguero => Christian Simon Sen
Edin Dzeko => Suwandi (Iwan)

Kisah si “tukang angkut air”

Tukang angkut air

Dalam sepakbola modern, posisi lini tengah (midfielder) terbagi menjadi beberapa kategori tergantung dari peranan dan area kerjanya. Salah satu kategori yang menarik perhatian saya adalah peran box-to-box midfielder atau sering disebut sebagai gelandang “tukang angkut air” oleh para pecandu bola Indonesia. Usut punya usut, istilah “tukang angkut air” muncul dari pemandangan sehari-hari masyarakat kita tentang tukang pembawa air bersih yang berkeliling kota membawa dua baskom air bersih yang digantungkan pada sebilah kayu di pundaknya. Tak hanya perlu berfisik kuat dan kekar, seorang tukang angkut air wajib piawai mengatur keseimbangan bilah kayu di pundaknya agar dagangannya tidak tumpah dan dapur tetap mengebul.

Peran se-menarik itulah yang dijalani oleh seorang box-to-box midfielder. Stamina badak dan perawakan gahar memang kudu dimiliki, tetapi tanpa kemampuan menjembatani dan menyeimbangkan aliran bola dari lini pertahanan ke lini depan, sang pemain tidak lebih hanya sekedar “preman” di atas lapangan. Satu kewajiban yang tidak mudah tentunya, mengingat dalam hal menyeimbangkan tersebut sang gelandang harus memahami dua karakter permainan yang bertolak belakang. Di satu sisi dia harus belajar bagaimana membaca pergerakan bola, menutup ruang gerak, dan memutus serangan lawan (kalau perlu menjegal secara sadis), namun di sisi lain dia juga dituntut untuk menjadi inisiator serangan balik timnya, melakukan gebrakan lewat  solo run maupun umpan terobosan yang mematikan, bahkan tak jarang mencetak gol lewat tembakan jarak jauh. Intinya menjadi box-to-box midfielder tidak perlu orang yang super kreatif atau miracle maker, melainkan “cukup” seorang yang pekerja keras, tanpa basa-basi berani mencucurkan darah untuk timnya.

Ironisnya peran se-menarik dan se-berat ini jauh dari gemerlap apresiasi. Saya nyaris tidak pernah mendengar ada yang mendapat gelar Pemain Terbaik Dunia versi FIFA dari posisi ini. Nama-nama seperti: Sergio Busquets, Yaya Toure, Michael Essien, Lucas Leiva, Claude Makelele, dan Roy Keane mungkin kalah tenar dibanding rekan setimnya: Lionel Messi, David Silva, Didier Drogba, Luis Suarez, Raul Gonzalez, dan Wayne Rooney. Padahal, kehilangan pemain dengan peran ini tebukti meninggalkan lubang yang sulit dicari penambalnya. Real Madrid goyah selama beberapa musim setelah Makelele pindah ke Chelsea, Manchester United sampai saat ini belum menemukan sosok setangguh Roy Keane di lini tengah mereka pasca ia pensiun, bahkan selama saya bermain game Football Manager, saya akan lebih pusing jika pemain yang cedera panjang adalah gelandang “tukang angkut air” ini. Susah dicari penggantinya, karena memang hanya sedikit orang yang mampu.

Bicara soal kondisi psikologis sebuah tim, termasuk organisasi, yang tidak jarang dipenuhi perbedaan pendapat, pola pikir, dan karakter, selalu diperlukan seorang peacemaker yang mampu menjadi penengah dari setiap ke-bertolakbelakang-an yang ada. Seperti halnya seorang box-to-box midfielder, peacemaker memberi waktu dan dirinya memahami pola pikir, karakter, dan idealisme dari dua ekstrim yang terjadi. Tak jarang ia menjadi “korban” keganasan dari sikap ngotot pihak yang tidak mau legowo, tapi ia tak pernah mengeluh, ia menikmati perannya sebagai sang mediator: mendinginkan kepala rekan setimnya, namun tidak kompromi dan permisif. Tidak bisa kita bayangkan apabila si “tukang angkut air” itu hilang dari tim/organisasi kita, entah karena waktu atau yang bersangkutan terlanjur menggantung bilah kayunya karena terlalu letih menjaga baskom tetap seimbang. Ketulusan dan dedikasi penuh adalah wujud lain dari “mencucurkan darah” demi kejayaan tim secara individu dan komunal.

Apresiasi? Untuk sesaat saya berpikir, dalam beberapa hal, ketiadaan apresiasi malah memperkuat keluhuran dari sinar emas ketulusan….

08/05/2012
adsaputra

National-ism

Indonesia
Prakata: Artikel ini saya buat sebagai tugas essay peserta Retreat Koordinator XII. Saya tampilkan ulang dengan pengeditan seperlunya, tanpa mengurangi esensi artikel. Semoga menjadi berkat untuk kita semua.

“Indonesia tanah airku…tanah tumpah darahku…disanalah aku berdiri… jadi pandu ibuku…”. Suara pekikan sekitar 1000-an orang membahana di loket parkir utara Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), sekitar pukul 4 subuh ketika saya dan seorang kawan sedang mengantri tiket untuk menyaksikan tim Garuda beraksi di Final AFF Suzuki Cup 2010. Penggalan syair tersebut secara ajaib mampu menenangkan emosi para pengantri yang saat itu, lantaran saling dorong dan serobot demi meraih 5 carik kertas Pre-Ticket. Penggalan syair yang sama, empat tahun yang lalu, juga dikumandangkan oleh 90.000 atau bahkan hampir 200 juta penduduk Tanah Air ketika menyaksikan timnas Garuda menekuk Bahrain dengan permainan indah. Dua peristiwa di atas setidaknya memperlihatkan kepada saya bahwa di tengah-tengah kondisi perpolitikan bangsa yang penuh dengan carut-marut retorika belaka, di tengah kondisi ekonomi mikro yang “mencekik” leher rakyat, di tengah ke-skeptis-an sebagian besar masyarakat negeri ini akan negerinya, ternyata masih ada potret kecil orang-orang yang masih punya hati untuk negeri ini, terlepas dari kecilnya scoop olahraga khususnya sepakbola maupun mereka yang “latah” melihat wajah tampan Irfan Bachdim maupun Cristian Gonzalez saat itu. Sepulang dari stadion dan turnamen telah berakhir, saya pun kembali merenung, “Apakah semangat nasionalisme rakyat Indonesia hanya bisa dibangkitkan pada sebuah turnamen sepakbola saja? Alangkah luar biasa bila semangat serupa bisa dibangkitkan dalam kehidupan sehari-hari dan berdampak bagi kehidupan berbangsa dan bernegara!”.

Superfisial
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ‘nasionalisme’ berarti: 1) Paham/ajaran untuk mencintai bangsa dan negara sendiri; 2) Sebuah kesadaran sebagai anggota yang terikat dari satu bangsa. Dari definisi di atas, saya dapat menyimpulkan tolak ukur seseorang disebut nasionalis atau tidak dapat dilihat dari apakah setiap tindakan, pola pikir, dan determinasi seseorang menunjukkan ia mencintai dan bangga akan tanah airnya dan bukan demi keuntungan diri/kelompok. Bicara nasionalisme, khususnya dalam konteks kehidupan Mahasiswa yang (katanya) selangkah lebih dekat menuju dunia pekerjaan yang tentunya mempengaruhi hidup banyak orang, apakah ciri-ciri nasionalisme begitu “merasuk” ke dalam tindakan hingga pola pikir Mahasiswa Indonesia saat ini? Tentunya saya tidak dapat menjawab secara keseluruhan kondisi setiap kampus di Indonesia, tetapi inilah hasil pengamatan yang saya lakukan di kampus saya sendiri. Nasionalisme di kampus tempat saya menuntut ilmu sangat superfisial, hanya sampai di permukaan luar saja. Nasionalisme dilakukan jika itu berkaitan dengan suatu tren/mode yang dianggap dapat menunjang eksistensi diri saat itu. Jika tidak, hanya segelintir orang yang bangga akan hal tersebut. Terlihat jelas, bahwa nasionalisme hanya menjadi suatu instrument/embel-embel untuk membuat diri terlihat keren dan diterima di dalam pergaulan, agar terkenal di kalangan teman-teman kampus sebagai sang nasionalis (?), sedangkan ketika masuk ke dalam topic pembicaraan mengenai permasalahan Negara, alih-alih memberikan solusi. Orang-orang seperti ini hanya akan menjadi kalangan (sok) pintar yang hanya bsa mengkritik dan mencemooh tanpa menjadi bagian dari solusi bagi bangsa ini. Contoh paling nyata terlihat pada saat gelaran AFF Cup tadi. Banyak mahasiswa di kampus saya berlomba-lomba seolah-olah merekalah orang paling nasionalis di negeri ini dengan segala atribut timnas Garuda. Sayangnya itu tidak sampai merubah gaya hidup mereka, yang tetap membolos kuliah, melanggar rambu lalu lintas, mengkopi data dan lain sebagainya. Atau seperti gerakan Pray For Indonesia yang mendadak heboh ketika terjadi bencana alam di Wasior, Mentawai, dan Merapi, dimana para Facebookers menjadi “latah” dan mengganti Profile Picturenya dengan icon gerakan tersebut, tetapi sampai hari ini saya tidak melihat ada tindak lanjut konkrit dari gerakan dan orang-orang yang ber-ProfilePicture-kan Pray For Indonesia.

Skeptis-Pragmatis
Problem kedua adalah Mahasiswa yang skeptis dan apatis terhadap Negara. Memang kita tidak bisa memungkiri andil pemerintah yang turut “mensukseskan” hal ini. Ketika pemerintah mengeluarkan berbagai kebijakan yang apatis terhadap rakyat, maka konsekuensi logisnya adalah rakyat tidak peduli akan pemerintah dan bahkan Negara. Mahasiswa skeptis pada akhirnya akan berpikir “Yang penting saya hidup aman dan sejahtera, tidak peduli kepentingan orang banyak/Negara dirugikan”. Bukan tidak mungkin dari mahasiswa seperti ini, akan lahir banyak Gayus Tambunan baru bukan? Godaan keegoisan dan “main aman” menjadi pilihan yang rasional di tengah zaman yang pragmatis sekarang ini, di saat semua orang hanya berpikir “yang-penting-untung” hanya segelintir orang yang punya kesadaran untuk memberi dampak positif bagi sesama dan masyarakat.

Transformasi Negara adalah buah hasil doa dan kontribusi konkrit anak-anak bangsa yang mau keluar dari zona nyaman keegoisan diri dan rindu bangsa ini boleh mensejahterakan kehidupan rakyatnya. Ya! Teladan doa dan aksi nyata! Jika itu terjadi, saya percaya, akan muncul banyak Irfan Bachdim dan Christian Gonzalez yang bersedia meninggalkan peluang hidup nyaman karena kesadaran akan rencana Tuhan menempatkan mereka di sebuah Negara bernama “INDONESIA”.

Bagimu negeri, jiwa raga kami.

05/02/2011
adsaputra

Pertamax, Gan!

Gunting pita
Suatu awal tidak melulu harus di-selebrasi-kan, toh belum memberi kontribusi apapun. Simpan saja selebrasi untuk suatu kontribusi kelak….

So, tanpa pemotongan pita, tanpa tanda tangan notaris, dan tanpa segala macam basa-basi yang penuh retorika……
Blog ini secara resmi saya launching…..(Tok…tok…tok)

Semoga blog ini dapat berkontribusi bagi banyak orang, khususnya dalam hal pemikiran.

19/02/2011
adsaputra